Perjuangan Nelayan Tomia Melawan PT Wakatobi Dive Resort Menuai Hasil


Kendari - Perjuangan nelayan lokal Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang memperjuangkan hak-haknya yang dibatasi oleh perusahaan asing PT Wakatobi Dive Resort (PT WDR) akhirnya membuahkan hasil.
Hal itu disampaikan kuasa hukum masyarakat dan nelayan lokal Kecamatan Tomia, Dedi Ferianto, dalam rilisnya yang dikirim ke Sultranesia, Senin, 30 Juni 2025.
Perjuangan yang cukup panjang hingga memakan waktu kurang lebih sekitar 29 tahun ini, kata Dedi, akhirnya melahirkan beberapa poin titik terang.
Secercah harapan titik terang ini tertuang dalam berita acara kesepakatan antara nelayan dengan PT WDR, di antaranya sebagai berikut.
Pertama, patroli laut milik PT WDR yang selama ini melakukan pengusiran nelayan lokal diberhentikan total, sampai ada sosialiasi kepada masyarakat di semua desa mengenai batas-batas zonasi taman nasional laut Wakatobi.
Kedua, karyawan pelaku penrusakan terumbu karang diberhentikan dari perusahaan.
Tiga, PT WDR menghentikan pelarangan terhadap nelayan lokal yang melakukan penangkapan dengan ramah lingkungan di zona tradisional.
Dan keempat, PT WDR juga menghentikan pembelian pasir yang ditambang secara ilegal dalam kawasan Konservasi Taman Nasional Laut Wakatobi.
"Kesepakatan ini adalah kemenangan kecil perjuangan nelayan lokal yang selama ini dibatasi hak-haknya untuk kepentingan bisnis komersil PT WDR atas taman nasional laut Wakatobi," kata Dedi.
Berita acara kesepakatan yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak dan disaksikan oleh Balai Taman Nasional Wakatobi, aparat kepolisian dan TNI, kata Dedi, menjadi bukti hukum pengakuan pihak perusahaan atas tindakan perusakan lingkungan berupa perusakan terumbu karang dan eksploitasi pasir laut secara ilegal yang mengakibatkan kerusakan ekosistem laut Wakatobi.
"Oleh karenanya wajib ada tindakan penegakan hukum untuk memberikan efek jera baik administasi maupun pidana kepada PT WDR dan karyawan yang telah melakukan perrusakan lingkungan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku," tegas Dedi.
Editor: Denyi Risman
Berita BerikutnyaDevisa Sultra dari Sektor Perikanan Capai Rp 25,4 Triliun, KKP Mulai Melirik
Baca Juga
Dua Jurnalis Jadi Terlapor Usai Liput Demo, AJI Desak Kapolresta Kendari Dicopot
Kendari – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Sulawesi Tenggara (Sultra) mendesak Kapolresta Kendari Kombes Pol. Safi’i Nafsikin dan Kasat Reskrim Kompol Welliwanto Malau…
Ombudsman: Ridwan Badallah Banyak Sebar Ujaran Kebencian di TikTok
Kendari – Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra), Ridwan Badallah, disorot Ombudsman RI Perwakilan Sultra setelah ditemukan banyak ujaran kebencian dalam konten TikTok pribadinya, @eRBe#bersuara. Ujaran tersebut tidak…
Polresta Kendari Segel 8 Outlet BRILink Terkait Kasus Penipuan Investasi Rp3,8 Miliar
Kendari - Delapan outlet BRILink di Kecamatan Konda dan Onewila, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), disegel polisi terkait kasus dugaan penipuan dan atau penggelapan investasi usaha…
Pelantikan Serentak Pengurus Golkar se-Sultra Dipastikan Digelar 1 November di Kolaka
Kendari - Pelantikan serentak pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dan DPD II kabupaten/kota se-Sultra dipastikan berlangsung di Kabupaten Kolaka pada Minggu (1/11/2026). Ketua DPD Partai…
Tak Sampai 24 Jam, Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan di BTN Djavino Kendari
Kendari - Satreskrim Polresta Kendari berhasil menangkap terduga pelaku pembunuhan seorang pekerja bangunan di kawasan BTN Djavino, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Pelaku diamankan hanya beberapa…
Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di BTN Djavino, Begini Awal Perselisihan Korban dan Pelaku
Kendari – Pria yang ditemukan tewas bersimbah darah di BTN Djavino, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (28/10/2026), dipastikan menjadi korban pembunuhan. Sebelum kejadian, korban dan terduga…







