Polda Sulawesi Tenggara Tetapkan Dua Tersangka Kasus Beras SPHP Palsu


Kendari - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) membongkar kasus penyalahgunaan dan pemalsuan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Dalam kasus tersebut, penyidik Subdit Indagsi Ditreskrimsus Polda Sultra menetapkan dua tersangka, masing-masing berinisial LJN dan LJ.
"Dua tersangka dan barang buktinya langsung kami tahan," kata Dirkrimsus Polda Sultra, Kombes Pol Dody Ruyatman, saat menggelar konfrensi pers bersama Kepala Bulog Sultra, Siti Mardati Saing, Selasa (5/8).
Kombes Dody menerangkan, kedua tersangka itu memperdagangkan beras SPHP Bulog yang tidak sesuai standar.
Para tersangka, lanjut dia, memasarkan beras lokal produksi pabrik penggilingan padi yang dikemas ulang dalam karung bekas beras SPHP berkapasitas 5 kg, namun hanya diisi 4 kg per karung.
Beras tersebut juga dijual dengan harga Rp 64.000 hingga Rp 65.000 per karung, atau Rp 16.000 per kg. Harga ini jauh melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) beras SPHP yang ditetapkan sebesar Rp 12.500 per kg.
Dody bilang, barang bukti yang disita dalam kasus ini antara lain 100 karung beras SPHP kemasan 5 kg, satu unit alat timbangan beras, dan satu unit mesin penjahit karung.
"Modus operandi para pelaku melibatkan pengemasan ulang beras lokal ke dalam karung bekas SPHP dengan berat yang tidak sesuai, sehingga merugikan konsumen," ungkapnya.
Para tersangka dijerat dengan Pasal 62 Ayat 1 jo Pasal 8 Ayat 1 huruf (a), (b), dan (e) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.
"Ancaman hukuman yang dihadapi adalah pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda maksimal Rp 2 miliar," tegasnya.
Kombes Dody menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan para tersangka merupakan pelanggaran serius terhadap perlindungan konsumen karena mereka memperdagangkan barang yang tidak sesuai dengan standar berat, isi bersih, dan mutu yang tertera pada label.
"Kami akan terus mengawasi dan menindak praktik-praktik yang merugikan masyarakat," tegas mantan Dirkrimum Polda Sultra ini. Rilis.
Editor: Muh Fajar
Berita BerikutnyaTambang Ilegal di Pulau Gebe Disebut Tak Tersentuh Aparat Penegak Hukum
Baca Juga
Dua Jurnalis Jadi Terlapor Usai Liput Demo, AJI Desak Kapolresta Kendari Dicopot
Kendari – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Sulawesi Tenggara (Sultra) mendesak Kapolresta Kendari Kombes Pol. Safi’i Nafsikin dan Kasat Reskrim Kompol Welliwanto Malau…
Sudah Disegel dan Didenda Rp590 Juta, Dua Galangan Kapal di Konsel Diduga Masih Beroperasi
Kendari – Dua galangan kapal di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), kembali disorot setelah diduga masih beroperasi meski telah disegel dan dikenai denda administratif total Rp590…
Pekerja Mundur, Progres Lambat, Proyek RSUD Muna Barat Rp158,3 Miliar Disorot KSP
Muna Barat – Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muna Barat, Sulawesi Tenggara, senilai Rp158,3 miliar menghadapi persoalan serius. Progres pekerjaan fisik yang diperkirakan belum mencapai 25 persen,…
KUHP Baru Perluas Peran PK, IPKEMINDO Sultra Siapkan Strategi
Kendari – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru memperluas peran Pembimbing Kemasyarakatan (PK) dalam sistem peradilan pidana. Ikatan Pembimbing Kemasyarakatan Indonesia (IPKEMINDO) Sulawesi Tenggara (Sultra) menyiapkan penguatan…
Ombudsman: Ridwan Badallah Banyak Sebar Ujaran Kebencian di TikTok
Kendari – Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra), Ridwan Badallah, disorot Ombudsman RI Perwakilan Sultra setelah ditemukan banyak ujaran kebencian dalam konten TikTok pribadinya, @eRBe#bersuara. Ujaran tersebut tidak…
Ruksamin Menang Sengketa Mesin Crusher, Jalil Siapkan Perlawanan di Pengadilan Tinggi
Kendari – Sengketa kepemilikan satu unit mesin crusher antara mantan Bupati Konawe Utara (Konut), Ruksamin, dan Jalil berlanjut ke tingkat banding. Kuasa hukum Jalil, Imam Rifaldi memastikan pihaknya…







