Praktisi Hukum Soroti Dugaan Pembatasan Akses Air Terjun oleh PT SCM di Routa


Konawe - Viral penemuan air terjun raksasa di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, menuai sorotan. Objek wisata alam tersebut disebut-sebut tidak dapat diakses publik karena berada di dalam wilayah konsesi pertambangan milik PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM).
Praktisi hukum yang juga Ketua LBH HAMI Sultra, Andre Darmawan, menilai pembatasan akses tersebut janggal dan patut dipertanyakan dari sisi hukum.
Dia menegaskan bahwa perusahaan tambang hanya memiliki izin untuk mengelola sumber daya, bukan hak kepemilikan penuh atas lahan.
Andre mempertanyakan dasar hukum PT SCM dalam melarang aktivitas masyarakat di kawasan tersebut.
"Warga lokal telah lama mendiami wilayah Routa secara turun-temurun jauh sebelum adanya aktivitas pertambangan," ujarnya, Selasa (7/4).
Ia juga mengingatkan bahwa Izin Usaha Pertambangan (IUP) bukanlah hak milik atas tanah. Perusahaan, kata dia, tidak berwenang melarang masyarakat memasuki kawasan yang secara historis merupakan ruang hidup warga.
Selain itu, Andre menyinggung ketentuan Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan digunakansebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Karena itu, menurutnya, pengaturan akses tidak boleh sepenuhnya ditentukan oleh korporasi.
Tidak hanya soal akses ke air terjun, Andre juga mengaku menerima laporan bahwa warga dilarang mencari ikan di danau sekitar kawasan tambang, yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Ia menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak sosial serius dan seolah menciptakan “negara dalam negara” di wilayah Routa.
Andre mendesak pemerintah untuk turun tangan dan mengevaluasi kebijakan perusahaan yang dinilai melampaui kewenangan serta merugikan hak-hak masyarakat.
“Ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Perusahaan tidak boleh bertindak seolah melebihi negara,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan belum ada keterangan resmi dari pihak PT SCM terkait dugaan pembatasan akses ke air terjun tersebut.
Editor: Muh Fajar
Berita BerikutnyaGubernur Pastikan Tidak Ada Kelangkaan BBM di Sultra, Warga Tak Perlu Panik
Baca Juga
Dua Jurnalis Jadi Terlapor Usai Liput Demo, AJI Desak Kapolresta Kendari Dicopot
Kendari – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Sulawesi Tenggara (Sultra) mendesak Kapolresta Kendari Kombes Pol. Safi’i Nafsikin dan Kasat Reskrim Kompol Welliwanto Malau…
Ombudsman: Ridwan Badallah Banyak Sebar Ujaran Kebencian di TikTok
Kendari – Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra), Ridwan Badallah, disorot Ombudsman RI Perwakilan Sultra setelah ditemukan banyak ujaran kebencian dalam konten TikTok pribadinya, @eRBe#bersuara. Ujaran tersebut tidak…
Polresta Kendari Segel 8 Outlet BRILink Terkait Kasus Penipuan Investasi Rp3,8 Miliar
Kendari - Delapan outlet BRILink di Kecamatan Konda dan Onewila, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), disegel polisi terkait kasus dugaan penipuan dan atau penggelapan investasi usaha…
Pelantikan Serentak Pengurus Golkar se-Sultra Dipastikan Digelar 1 November di Kolaka
Kendari - Pelantikan serentak pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dan DPD II kabupaten/kota se-Sultra dipastikan berlangsung di Kabupaten Kolaka pada Minggu (1/11/2026). Ketua DPD Partai…
Tak Sampai 24 Jam, Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan di BTN Djavino Kendari
Kendari - Satreskrim Polresta Kendari berhasil menangkap terduga pelaku pembunuhan seorang pekerja bangunan di kawasan BTN Djavino, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Pelaku diamankan hanya beberapa…
Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di BTN Djavino, Begini Awal Perselisihan Korban dan Pelaku
Kendari – Pria yang ditemukan tewas bersimbah darah di BTN Djavino, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (28/10/2026), dipastikan menjadi korban pembunuhan. Sebelum kejadian, korban dan terduga…







