RI Dikaruniai Berkah Logam Tanah Jarang, Salah Satunya Ada di Buton, Sultra

Sultranesia
2 Min Baca
RI Dikaruniai Berkah Logam Tanah Jarang, Salah Satunya Ada di Buton, Sultra
Ilustrasi Ligam Tanah Jarang. Foto: Dok. Goodnewsindonesia.

Kendari - Indonesia kembali menegaskan diri sebagai negeri yang kaya akan sumber daya mineral. Salah satunya adalah Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth element, yang kini menjadi salah satu komoditas strategis dunia.

Mengutip Booklet ESDM Tanah Jarang 2020, kajian Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat potensi LTJ tersebar luas di berbagai pulau Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, hingga Sulawesi.

Di wilayah Sulawesi sendiri, keberadaan LTJ ternyata ditemukan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, dalam bentuk LTJ laterit.

Meski memiliki potensi yang besar, Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan LTJ dalam negeri.

Data 2014-2018 menunjukkan bahan baku LTJ yang dibutuhkan industri masih didatangkan dari luar negeri, di antaranya berupa lantanum (La), cerium (Ce), neodymium (Nd), praseodymium (Pr), dan samarium (Sm).

Material ini digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari pewarna, keramik, penyulingan minyak, hingga komponen penting kendaraan listrik, magnet permanen, dan generator.

Ketergantungan itu terlihat jelas pada data impor 2018. Indonesia memperoleh pasokan LTJ dari China sebesar 48 persen, Malaysia 37 persen, Jepang 11 persen, dan sisanya dari negara lain 4 persen. Artinya, meski kaya sumber daya, pemanfaatan LTJ di dalam negeri masih sangat minim.

Padahal, logam tanah jarang memiliki peran vital dalam perkembangan teknologi modern. Hampir semua perangkat elektronik yang digunakan sehari-hari, seperti smartphone, komputer, hingga mobil listrik, memerlukan komponen dari LTJ.

Laporan US Geological Survey (USGS) bahkan menyebut ada sekitar 200 produk teknologi canggih di dunia yang bergantung pada unsur ini.

Keunggulan LTJ terletak pada sifat kimia, magnetik, dan konduktivitasnya yang unik. Unsur-unsur di dalamnya mampu menghasilkan efisiensi energi, miniaturisasi perangkat, peningkatan kecepatan, daya tahan tinggi, serta stabilitas termal yang lebih baik.

Secara global, LTJ dikenal terdiri atas 17 unsur kimia. Di antaranya Lanthanum (La)Cerium (Ce), Praseodymium (Pr) Peodymium (Nd), Promethium (Pm), Samarium (Sm), Europium (Eu), Gadolinium (Gd), Terbium (Tb), Dysprosium (Dy), Holmium (Ho), Erbium (Er), Thulium (Tm), Ytterbium (Yb), Lutetium (Lu), Scandium (Sc) dan Yttrium (Y).

Dengan potensi besar yang dimiliki, termasuk cadangan di Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia sebenarnya berpeluang menjadi pemain penting dalam rantai pasok global logam tanah jarang.

Tantangannya kini adalah bagaimana mengelola kekayaan ini dengan serius, mengurangi ketergantungan impor, dan mendorong industri hilir agar mampu mengolahnya secara mandiri di tanah air.


Editor: Redaksi

Berita BerikutnyaPertamina Sulawesi Gandeng Ratusan Relawan Bersihkan Lingkungan dari Sampah
Bagikan:

Baca Juga