Ditjenpas Sultra Libatkan Ahli Pertanian UHO, Ini yang Akan Dikembangkan di Lapas dan Rutan

Sultranesia
2 Min Baca
Ditjenpas Sultra Libatkan Ahli Pertanian UHO, Ini yang Akan Dikembangkan di Lapas dan Rutan
Kabag TUM Kanwil Ditjenpas Sultra, Hasrudin, bersama Dekan Fakultas Pertanian UHO, Prof. Marsuki Iswandi, membahas peluang kerja sama pengembangan program ketahanan pangan dan pembinaan keterampilan pertanian bagi warga binaan di Lapas dan Rutan, Selasa (

Kendari – Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sulawesi Tenggara (Sultra) menjajaki kerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo (UHO) untuk mendukung program ketahanan pangan dan pembinaan kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Rencana kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum (Kabag TUM) Kanwil Ditjenpas Sultra, Hasrudin, dengan Dekan Fakultas Pertanian UHO, Prof. Marsuki Iswandi, di Gedung Fakultas Pertanian UHO, Selasa (27/10/2026).

Pertemuan itu membahas peluang pendampingan akademis serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian bagi Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan).

Kabag TUM Kanwil Ditjenpas Sultra, Hasrudin, mengatakan keterlibatan akademisi dibutuhkan untuk mendukung penerapan ilmu pertanian dalam program ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.

“Kami ingin Warga Binaan tidak sekadar mengetahui cara menanam, tetapi memahami bagaimana menghasilkan produk pertanian yang berkualitas melalui penerapan ilmu pengetahuan,” ujar Hasrudin.

Bidang yang berpotensi dikembangkan melalui kerja sama tersebut meliputi analisis kesuburan tanah, penggunaan pupuk organik dan kompos, teknologi hidroponik, irigasi hemat air, pembibitan tanaman hortikultura, serta pengendalian hama terpadu yang ramah lingkungan.

Hasrudin menjelaskan, pendampingan tenaga ahli diperlukan untuk menghadapi sejumlah tantangan pertanian di Lapas dan Rutan, antara lain keterbatasan lahan, kualitas media tanam, ketersediaan air, dan produktivitas hasil pertanian.

Menurutnya, setiap satuan kerja diharapkan dapat menerapkan metode budidaya sesuai karakteristik lingkungan dan potensi sumber daya yang tersedia.

“Pendampingan mulai dari pengolahan tanah, pemilihan bibit unggul, pemupukan, pengendalian hama, hingga pengelolaan hasil panen,” katanya.

Selain teknik budidaya, peluang kerja sama juga mencakup manajemen agribisnis, perencanaan produksi, pengolahan hasil panen, dan pengenalan kewirausahaan pertanian.

Dekan Fakultas Pertanian UHO, Prof. Marsuki Iswandi, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menyatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan manfaat ilmu pengetahuan melalui pengabdian kepada masyarakat dan pemberdayaan Warga Binaan.

“Ilmu pertanian terus berkembang dan dapat diterapkan dalam berbagai kondisi, termasuk pada lahan yang terbatas,” ujar Marsuki.

Ia mengatakan pendekatan ilmiah dapat digunakan untuk menentukan jenis tanaman yang sesuai, memperbaiki kualitas tanah, mengatur kebutuhan air dan nutrisi, serta meningkatkan produktivitas pertanian.

Marsuki juga menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan melalui pelatihan praktik, penyuluhan teknis, dan evaluasi hasil budidaya dengan dukungan dosen serta tenaga ahli Fakultas Pertanian UHO.


Editor: Denyi Risman

Berita BerikutnyaUrus Pernikahan di Belanda, Warga Kendari Butuh Sertifikat Apostille untuk Dokumen Ini
Bagikan:

Baca Juga